"Too young, too dumb to realize"

changed
Arifah Khoirianti. Riri.
not sweet, not cool & sixteen

"Cause my heart breaks a little when i hear your name"


"I hope He boughts me flowers, I hope He held my hands"



2)


“Hey I just met you, & this is crazy. But here's my archives, so click here maybe?”
Januari 2011 Maret 2011 Desember 2011 Januari 2012 Februari 2012 Maret 2012 April 2012 Mei 2012 Juni 2012 Agustus 2012 Desember 2012 Januari 2013 Februari 2013 Maret 2013 April 2013 Mei 2013 Juni 2013 Juli 2013 Desember 2013

Pengakuan Tania
Sabtu, 25 Agustus 2012 || 17.40


          Terasa sakit sekali saat aku tahu ternyata bukan aku yang terpilih pada seleksi yang diadakan sekolah untuk menentukan siapa yang akan menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika di Jakarta. Aku sedih sekali. Tania, dialah yang berhasil menjadi urutan teratas dan terpilih menjadi perwakilan sekolah. Sedangkan aku menempati urutan kedua. Aku menghampiri Tania dan mengucapkan selamat, berpura pura turut senang atas keberhasilannya. Bukan, bukan begitu. Iya, aku senang Tania yang terpilih. Tapi mungkin aku bisa lebih bahagia jika aku yang terpilih. 

Sebenarnya aku sedikit heran lo, kenapa Tania yang terpilih? Mungkin ini terdengar seperti menyombongkan diri, tapi faktanya aku lah yang selalu juara 1 dikelas, Tania bahkan tidak pernah masuk ranking 3 besar.

Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin agar terpilih menjadi perwakilan sekolah. Belajar berdoa. Sampai sampai guru guru di sekolah sudah optimis akulah yang akan terpilih. Tapi mengapa bukan aku ? 

Besok adalah hari Senin. Hari dimana Tania akan dikirim ke Jakarta. Sungguh rasanya seperti ditampar. Aku hanya memandang dari jendela kelas. Tania dan guru pendamping masuk ke dalam mobil sekolah yang melaju menjauh menuju stasiun kereta api.

Bel istirahat berbunyi. Dengan gontai aku melangkah keluar. Bersandar lemas pada dinding majalah dinding sekolah.  Seorang karyawan sedang sibuk memasang selebaran pada papan mading. Aku penasaran dengan selebaran itu. Ternyata selebaran itu berisi tentang lomba matematika di seluruh Asean. Waah, aku ingin sekali mengikuti lomba itu. Tak lama, bel masuk pun berbunyi. Aku segera bergegas menuju ke kelas

Setelah pulang sekolah, aku dipanggil kepala sekolahku. Beliau berkata bahwa aku dimintanya menjadi perwakilan sekolah tanpa tes. Karena lomba matematika se asean itu akan dimulai besok lusa, maka sekolah tidak mungkin mengadakan tes lagi untuk menyeleksi siswa. Pasti akan memakan waktu yang lama. Sedangkan Tania masih mengikuti olimpiade di Jakarta dan baru akan pulang 3 hari lagi. Jadi sekolah memutuskan akulah yang akan mewakili sekolah dalam lomba matematika se asean. Aku senang sekali !

Hari ini aku dikirim ke Bangkok, Hongkong. Tentu saja naik pesawat bersama guru yang mendampingiku dalam lomba ini.

Di Bangkok, kujalani tahap dari tahap lomba ini dengan keyakinan dan sungguh sungguh. Dan Alhamdulillah aku menang! Aku mendapat medali dan sertifikat. Aku bangga sekali. Setelah lomba usai aku berfoto dengan peserta dari negara negara Asean lainnya. Esoknya aku pulang ke Bogor. Benar benar menyenangkan!

Hari ini upacara bendera. Seluruh anggota sekolah menjalani dengan hikmat dan sungguh sungguh. Setelah upacara usai. Kepala sekolah meminta waktu sedikit untuk memberikan pengumuman. Beliau mengumumkan tentang lomba matematika antar negara Asean tersebut. Aku pun dipanggil maju. Aku malu sekali saat itu. Didepan seluruh siswa, Ibu kepala sekolah mengucapkan selamat. Aku bersalaman dengan beliau. Semua pun bertepuk tangan.

Setelah pengumuman selesai. Aku dan teman temanku masuk kelas, termasuk Tania. Tiba – tiba ia menghampiriku dan berkata “Kyla, selamat ya atas kemenangannya. Maaf La, sebenernya waktu tes pemilihan perwakilan sekolah lalu aku gak jujur. Aku pingin banget ikut olimpiade itu, sampek sampek aku berlaku gak jujur. Dan aku gak menang di olimpiade kemarin. Aku kira dengan curang aku bisa bahagia, ternyata enggak. Maafin aku ya La. “ saat mendengar itu aku terdiam berusaha bersabar dan memaafkan. “Iya, gak papa kok Tan. Tapi lain kali kamu jangan ga jujur gini lagi ya Tan?” Jawabku tersenyum sambil merangkul Tania. "Iya, La" Tania tersenyum. Kami pun masuk ke kelas.

tugas bahasa indonesia - cerpen